5 Mahasiswa Unila Ciptakan Bom Passion Program Cerdas Basmi Malaria

Dari tahun ke tahun, jumlah kasus malaria di Indonesia terus meningkat. Kontribusi kasus malaria terbanyak berasal dari wilayah Indonesia Timur. Sebagian dari wilayah tersebut adalah NTT, Papua, Papua Barat, dan Maluku.

Sementara di Jawa dan Sumatra, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, di dua daerah tersebut rata-rata sudah eliminasi dengan Annual Parasite Incidence (API) di bawah 1/1000 penduduk.

Hingga April 2023, sementara eliminasi malaria sebanyak 5 provinsi dan 381 kabupaten/kota. “Harapannya target eliminasi malaria 90% tercapai tahun 2024,” jelas Dirjen Maxi ketika menghadiri konferensi pers Hari Malaria Sedunia secara daring pada bulan Mei 2023 silam.

Sebagai informasi, Indonesia menyumbang kasus malaria kedua terbesar di Asia setelah India. Laporan WHO 2022 dalam World Malaria Report 2020 mengemukakan estimasi kasus malaria sebesar 811.636 kasus positif pada tahun 2021.

Sebenarnya kasus malaria sempat turun pada rentang 2010-2014. Namun, tren kasus malaria di Indonesia cenderung stagnan pada 2014-2019. Kebayang selama lima tahun, masyarakat tak berdaya terjangkit malaria.

As we know from last paragraph, banyak wilayah di Indonesia Timur menjadi daerah endemis malaria. Faktor cuaca yang sulit diprediksi membuat masyarakat setempat lebih rentan terkena malaria. Saya pernah tinggal di Ternate, salah satu daerah endemis malaria. Di sana, hujan dan panas yang menyengat datang silih berganti secara cepat.

 Malaria berasal dari gigitan nyamuk pembawa parasit Plasmodium. Gigitan nyamuk itu akan menyebabkan parasit masuk ke dalam tubuh manusia. Selanjutnya, parasit tersebut menetap di organ hati sebelum ia menyerang sel darah merah.

Gejala malaria muncul setidaknya 10-15 hari setelah digigit nyamuk. Gejala ini muncul dalam tiga tahap selama 6–12 jam. Penderita akan menggigil, demam, dan sakit kepala. Setelah itu, keluar banyak keringat dan lemas sebelum suhu tubuh kembali normal.

Bom Passion Program Cerdas Basmi Malaria

Membasmi malaria sejatinya tidak dibebankan pada petugas kesehatan semata. Tanggung jawab itu ada di pundak setiap warga. Salah satunya tidak membiarkan tempat penampungan air yang sudah menjadi sarang nyamuk pembawa parasit tetap digunakan untuk konsumsi sehari-hari.

Kepedulian terhadap kasus malaria yang terus meningkat dilakukan lima mahasiswa Universitas Lampung. Mereka menyadari prevalensi kasus malaria di Lampung termasuk tinggi. Untuk itu, mereka menciptakan program cerdas basmi malaria. Lima sekawan ini menyebutnya Bom Passion sebagai akronim dari Bank for Malaria Eradication.

Angga Hendro Priyono, Muhammad Yogi Maryadi, Achmad Agus Purwanto, Rizky Arif Prasetyo, dan Isma Fadlilatus Sa’diyah menggagas program yang terdiri dari pembentukan Agen Bank for Malaria Eradication (BOM), pelatihan, simulasi, sharing, dan evaluasi seputar penyakit malaria.

Angga, Ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Unila, menjelaskan timnya menerapkan prinsip lima level prevention. Kelima prinsip tersebut terdiri atas :

  1. Health Promotion (Peningkatan Kesehatan)
  2. General and Specific Protection (Perlindungan Khusus)
  3. Early Diagnosis and Prompt Treatment (Deteksi Dini)
  4. Disability Limitation (Pengobatan dan Tindakan)
  5. Rehabilitation (Pemulihan)

yakni Health Promotion (Peningkatan Kesehatan), General and Specific Protection (Perlindungan Khusus), dan Early Diagnosis and Prompt Treatment (Deteksi Dini). Kemudian, Disability Limitation (Pengobatan dan Tindakan) dan Rehabilitation (Pemulihan).

Praktiknya di lapangan dilakukan pelatihan dan pendalaman program deposit bank sampah. Tingginya kasus malaria di Kabupaten Pesawaran, Lampung, menjadi latar belakang munculnya program deposit sampah.

Deposit sampah merupakan bentuk bengkel kesehatan lingkungan. Tujuannya agar warga setempat lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Selalin deposit sampah, tim yang diketuai Angga juga memberikan beragam pelatihan.

Program Bom Passion mengundang seluruh masyarakat untuk mengikuti pengenalan dan pendekatan materi tentang malaria. Selanjutnya, tim Bom Passion memilih tiga puluh orang yang mampu dan berkenan menjadi anggota Bom, termasuk warga yang direkomendasikan kepala desa (setempat).

Harapan jangka panjang dari program Bom Passion adalah terbentuknya kader masyarakat yang bisa melakukan pemberantasan malaria, menurunkan angka kejadian malaria, dan dapat menjadi inspirasi wilayah endemis malaria lainnya untuk menjalankan program Bom Passion demi tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik.